Kamis, 03 Maret 2022

 Pentigfar

"TERSALIB"

Ridhan Hadi


    Vina akan segera menikah, kami janjian bertemu di cafe ini. Dia akan mampir sebentar untuk memberiku surat undang pernikahannya. Dia bilang tidak bisa lama karena calon suaminya di Surabaya sedang menunggu. Aku senang Vina yang dulunya pendiam akhirnya mendapatkan jodoh. Jadi, aku tidak perlu lagi mencarikan pasangan untuknya.


    Aku juga tidak lama lagi akan segera dilamar. Orangnya sungguh luar biasa. Namanya Agus, Agus Tryo Bijaksono, Dia berhasil meluluhkan hatiku. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, bagaikan bait-bait syair pujangga penakluk wanita. Tatapan matanya menggetarkan jiwaku. Hah…, Tak bisa ku ceritakan semuanya. Mas Agus sempurna dimataku. Tiga bulan sudah berlalu dengannya. Waktu yang cukup untuk saling mengenal. Aku juga semakin baik setelah bersama Mas Agus, sudah bukan pemarah lagi. Sekarang, tiada hari tanpa senyuman. Bersama Mas Agus Aku merajut cinta dalam nyata, menggapai mimpi dalam angan. Berjanji untuk bersama dalam ikatan suci.  Mas Agus akan melamarku setelah kembali dari Surabaya.


Ku minum jus yg sudah Aku pesan, Tampa sadar aku melihat seorang wanita cantik di hadapanku. Ya, dia adalah Vina. Aku peluk melepas kangenku padanya. Dia tak bisa lama duduk bersamaku. Dengan bergegas Vina memberikan surat Undangannya dan pergi sambil berteriak padaku agar jangan lupa datang ke pesta pernikahannya. Ku buka surat itu. Tertulis jelas di dalamnya, nama Vina dengan Calon suaminya " Vina Dewanti Putri dan Agus Tryo Bijaksono". Ternyata Mas Agus pergi ke Surabaya untuk menikah dengan Vina. Hatiku hancur.

Pentigraf "MENUNGGU"

 Pentigraf

"MENUNGGU"

Ridhan Hadi


       Matahari terlihat begitu cerah pagi  ini, secerah hatiku, karena tunanganku akan menelpon pukul sembilan pagi ini. Mas Bima berangkat ke rumah Om Ferdi, pamannya di Jakarta. Aku harus menepati janjiku tidak menelponnya sampai Mas Bima sendiri yang menelpon, aku menerimanya walapun ini berat bagiku. Aku duduk di depan rumah sambil memegang  handphoneku. 


   Sambil menunggu, Aku  melihat galeri foto-foto bersama Mas Bima. Teringat kenangan bersamanya di Malioboro, Candi Ratu Boko, Prambanan, Museum Ullen Sentalu,  Taman Sari, Pantai Parangtritis, Stonehenge Cangkringan, dan yang tidak akan terlupakan teriakanku yang begitu keras waktu naik gondolan di Pantai Timang. Mas  Bima ikut tegang melihatku. Sangat menguji adrenalin. 


       Aku tersenyum menatap langit, melihat Sang Surya semakin meninggi. Tak lama berselang, ada panggilan dari Mas Bima, Aku segera mengangkatnya, tak ku berikan kesempatan Mas Bima bicara, ungkapan rasa rinduku sudah tak terbendung. Tapi sepintas terdengar bukan suara Mas Bima" Halo, Yen", dengan nada pelan suara wanita yang tak asing bagiku  berbicara, "Yeni  sayang...,ini mama nak, maafkan mama, baru sekarang mama telpon karena ini pesan Mas Bimamu sebelum meninggal dalam kecelakaan beruntun tadi malam. Aku terdiam air mataku tak terbendung, pandanganku gelap badanku lemas, terdengar sepintas, sambil menangis mama melanjutkan bicaranya, namun aku tak mendengar apa-apa lagi.

Cerpen "MENUNGGU PANGGILAN"

 Cerpen

MENUNGGU PANGGILAN

Ridhan Hadi


Namanya Bima, Bima Andika Pratama. Laki-laki yang membuat aku kesemsem. Berhasil meluluhkan hatiku. Hati yang terbelenggu dalam trauma akan cinta.  Jika dia di sampingku, waktu berjalan begitu cepat. Gairah cintaku meronta-ronta. Kata-kata yang keluar dari lisannya, bagaikan bait-bait syair pujangga cinta. Tatapan matanya menggetarkan jiwaku. Hah…, Tak bisa ku ceritakan semuanya. Mas Bima sempurna dimataku. 


Sudah hampir tiga bulan  aku bersamanya. Banyak yang berubah dalam diriku. Yeny, Derna, Yuki dan  teman-teman kerjaku bilang, Aku sekarang tidak menjadi pemurung, dan pemarah lagi, lebih periang, seperti orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Tiada hari tanpa senyuman. Bersama Mas Bima Aku merajut cinta dalam nyata, menggapai mimpi dalam angan. Berjanji untuk bersama dalam ikatan suci.  Mas Bima akan melamarku setelah kembali dari Jakarta.


Matahari terlihat begitu cerah pagi  ini, secerah hatiku, karena Mas Bima akan menelponku pukul sembilan pagi ini. Mas Bima berangkat ke rumah Om Ferdi, pamannya di Jakarta. Aku harus menepati janjiku tidak menelponnya sampai Mas Bima sendiri yang menelponku, aku menerimanya walapun ini berat bagiku. Aku duduk depan rumah sambil memegang  handphoneku.


Sambil menunggu, Aku  melihat galeri foto-foto bersama Mas Bima.   Teringat kenangan bersamanya di Malioboro, Candi Ratu Boko, Prambanan, Museum Ullen Sentalu,  Taman Sari, Pantai Timang, Pantai Parangtritis, Stonehenge Cangkringan, dan yang tidak akan terlupakan teriakanku yang begitu keras waktu naik gondolan di Pantai Timang. Mas  Bima ikut tegang melihatku. Sangat menguji adrenalin.


Aku tersenyum menatap langit, terlihat Sang Surya semakin meninggi. Tak lama berselang, ada panggilan dari Mas Bima masuk di handphoneku, Aku segera mengangkatnya, tak ku berikan kesempatan Mas Bima bicara, ungkapan rasa rinduku sudah tak terbendung. Tapi sepintas terdengar suara wanita" Halo, halo, Yeni", dengan nada pelan suara wanita yang tak asing bagiku  berbicara, "Yeni  sayang,...ini mama nak, maafkan mama, baru sekarang mama telpon karena ini pesan Mas Bimamu sebelum meninggal dalam kecelakaan beruntun tadi malam. Aku terdiam air mataku tak terbendung, pandanganku gelap badanku lemas, terdengar sepintas sambil menangis mama melanjutkan bicaranya, namun aku tak mendengar apa-apa lagi.

Kenangan

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH

ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...