Tampilkan postingan dengan label Pentigraf ( Cerpen Tiga Paragraf). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pentigraf ( Cerpen Tiga Paragraf). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2022

Pentigraf PACAR "BANGSAT"

  

Pentigraf

PACAR "BANGSAT" 

Ridhan Hadi

Aku hampir lima  tahun membina hubungan dengannya. Sebelumnya semua berjalan baik-baik saja. Tapi ada yang aneh dua bulan terakhir ini. Dia terlihat menjauh dariku. Dia juga sudah mulai membanding-bandingkan aku dengan pria lain. Bukankah itu perbuatan yang menjengkelkan bagi laki-laki? 

Aku sudah bilang jangan main-main dengan ku. Aku juga bisa melakukan tindakan yang lebih buruk dari apa yang kamu lakukan. Jangan berpikir bahwa kamu saja yang bisa. Aku juga bisa. Bahkan lebih dari perlakuan burukmu padaku. Ingat ya.., Masih banyak wanita lain di luar sana. Untuk apa bertahan dengan perempuan sepertimu. Kataku ngomel sendiri penuh dengan rasa jengkel. 

Malam itu aku berjalan ke Malioboro. Mencari wanita lain yang bisa memberikan kesenangan padaku. Aku bersama Rendy berjalan menyusuri gang melati. Katanya ada wanita cantik di situ. Namanya Anita. Rendy memberikan kode untuk berhenti di gang ke dua. Dia menyuruhku untuk menunggu sebentar. Karena Anita biasanya keluar dari lorong ini. Selang beberapa menit aku melihat sosok wanita berjalan keluar dari  gang sebelah, ini pasti Anita  pikirku, aku hampir memanggilnya. Namun terhenti karena Rendy memukul pundaku sambil berbisik "Jangan..., Itu Pacar Bang Sat" Kok Pacar bangsat,..dia cantik dan menarik kok, kataku. "Bukan..,maksud saya Bang Satria, preman ganas Penguasa Wilayah ini" Kata Rudy menjelaskan. 

Jumat, 01 April 2022

Pentigraf Berkah Kesabaran Ridhan Hadi

 Pentigraf

Berkah Kesabaran

Ridhan Hadi



Didin sudah lama bercerai dengan istrinya. Namun dia tetap mengirimkan uang bulanan kepada anak dan mantan istrinya. Gajinya kembali hanya satu juta setengah, setelah dipotong bank. Satu juta dikirim untuk anaknya, tiga ratus untuk bayar kost, dan dua ratus digunakan untuk keperluannya selama sebulan. 


Cukup berat kehidupan Didin, dia harus hidup dengan dua ratus ribu sebulan, berusaha makan seadanya. Kadang maagnya kambuh karena menahan lapar. Masalah ini tidak pernah mau dipahami oleh mantan istrinya, bahkan minta tambahan sebelum gajian. Alasannya anak banyak belanja. 


Sekarang sudah mendekati tanggal satu. Sudah hampir sepuluh kali mantan istrinya menelpon menanyakan gaji. Hal ini membuat Didin jadi jengkel. Kejengkelan semakin memuncak setelah mantan istrinya meminta untuk bulan ini harus mengirim satu juta setengah. Namun Didin berusaha sabar dan tenang. Dia tidak ingin masuk rumah sakit lagi karena menanggapinya dengan emosi. Tuut…, suara panggilan dari Handphone Didin. Mengapa masih saja menelpon padahal sudah dijelaskan. Bahwa gaji belum keluar, pikir Didin. "Halo.., ini dengan Pak Didin? Pak Didin mohon datang ke kantor. Bapak terpilih sebagai karyawan terbaik tahun ini. Nominalnya lima juta Pak. Cepat ya" Ternyata panggilan terakhir bukan dari mantan istrinya tapi dari bendahara kantor. Segera Ia mengambil uang dan  mengirim untuk anaknya sesuai permintaan mantan istrinya. 



Kamis, 31 Maret 2022

Pentigraf DURHAKA

 Pentigraf

DURHAKA

Ridhan Hadi


Ustaz Ahmad adalah orang yang sangat dikenal baik di kampungnya, dia selalu pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah. menghandle acara keagamaan, Memberikan ceramah kepada jamaah masjid, dan kadang mengisi khotbah di kampung sebelah. Namun jauh berbeda dengan istrinya. Dia malah jadi tukang gosip dan biang keributan di kampung. Dia sama sekali tidak menjaga marwah suaminya sebagai seorang Ustaz. Berulang kali diberi peringatan agar tidak mengerjakan keburukan lagi. Namun hasilnya nihil, Ustaz Ahmad malah menjadi sasaran cacian dan makian. 


Ustaz Ahmad sebenarnya sudah bosan dengan tingkah istrinya itu, disamping sering ngomel, membantah, jarang sholat, sumpah palsu dan senang sekali bergosip. Istrinya juga sering komentar miring bahkan mencibir Ustaz Ahmad. Dari masalah selalu sholat di masjid padahal ada rumah untuk sholat, ceramahi diri sendiri dulu baru ceramahi orang. sampai harta yang tak bisa bertambah. Menjadi bahan gosip istrinya di emperan rumah tetangga. 


Istrinya juga tidak pernah mau mengalah. Harus Ustaz Ahmad yang legowo menerima logika yang tidak masuk akal dari istrinya itu. Ayat dan Hadits sepertinya tak mempan baginya. Sungguh berat ujian Ustaz Ahmad. Begitu cerita tetangganya tadi sore selepas beliau dimakamkan. Ustaz Ahmad meninggal tadi malam di rumahnya. Kabarnya terkena serangan jantung dan hipertensi. 


Senin, 28 Maret 2022

Pentigraf SUARA KAKI SIAPA?

 

Pentigraf

SUARA KAKI SIAPA?

Ridhan Hadi


Saat itu suasananya begitu mencekam. Tak banyak yang bisa selamat. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Bau amis darah tercium begitu tajam. Hanya mereka berdua saja yang berhasil lolos, tak ada yang lain. Mereka terus mencari tempat persembunyian. Berharap bisa selamat dari kejaran musuh. 


Persenjataan mereka sudah menipis, tenaga mereka sudah hampir habis. Mereka bersembunyi di balik gedung tua yang hampir roboh. Merencanakan strategi bagaimana mendapatkan tambahan amunisi kembali. Jika harus ke luar, mereka pasti diserang. Posisi mereka sudah berada dalam kepungan musuh. Tampaknya tinggal menunggu ajal.


Terdengar suara kaki melangkah mendekati ruangan tempat mereka bersembunyi. Prak..!!! suara pukulan itu tepat kena di kepala Andi. "Cepat bangun berangkat pergi Les baca Quran. Ustadzmu sudah menunggu" kata ibunya menghentikan Andi main game Free Fire dari tiga jam yang lalu.



Minggu, 27 Maret 2022

Pentigraf "BAU JIN DATANG"

 

Pentigraf

BAU JIN DATANG

Ridhan Hadi


Mbah Tenyom adalah seorang dukun sakti. Dia sering diminta untuk menyelesaikan berbagai masalah. Dari masalah pribadi, jodoh, keluarga dan usaha. Mbah Tenyom menyelesaikannya dengan cara gaib. Menurut mereka Mbah Tenyom dapat mendatangkan makhluk halus melalui boneka batok kelapanya. Jika bau menyengat sudah datang boneka itu bergerak dan terbang sendiri. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dimasyarakat.


Namun tidak dengan sekelompok pemuda yang sering nongkrong di pos ronda. Mereka tidak percaya jika belum melihat dengan mata kepala sendiri. Tentu ini membuat mbah Tenyom Jengkel dan ingin memberikan pelajaran kepada mereka.


Malam Jum'at kliwon Mbah Tenyom mengumpulkan para pemuda itu di ruangan khusus milik mbah Tenyom. Di dalamnya sudah lengkap sesajen, asap kemenyan yang mengepul dan tidak ketinggalan boneka batok Kelapanya. Mulut mbah Tenyom mulai komat kamit membaca mantra. Para pemuda itu mulai merasakan aura yang berbeda. Mereka sudah mulai gusar dan tak bisa tertawa. Tidak lama berselang tercium bau busuk memenuhi ruangan. Pertanda bau jin sudah datang. Mbah tenyom sedikit bingung, biasanya butuh waktu setengah jam baca mantra baru jinnya datang. Joni kepercayaan Mbah Tenyom mendekati sang dukun dan membisikkan sesuatu. Terlihat mimik muka sang dukun berubah. Dia melotot kepada para pemuda dan sambil berteriak "Siapa yang kentuut..!!!" Seorang pemuda menyahut dari belakang. Si Mamat yang kentut, Mbah.., Dia ketakutan" katanya menjawab teriakan mbah dukun.

Senin, 21 Maret 2022

Pentigraf "TAKUT JADI SETAN"

 

Pentigraf

TAKUT JADI SETAN

Ridhan Hadi


Si Rudi sebelumnya adalah pemabuk berat. Namun dua minggu yang lalu dia sudah bertaubat, dia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya. sekarang dia sering ke masjid untuk mendengar ceramah ustaz. Apa yang disampaikan ustaz selalu dia amalkan.


Malam ini dia agak sedikit terlambat datang ke masjid. Sepintas terdengar jelas apa yang disampaikan oleh ustaz di dalam masjid, bahwa kita jangan sampai membuang-buang makanan dan minuman karena itu adalah perbuatan yang mubazir dan mubazir itu perbuatan setan. 


Setelah balik dari masjid dia melihat ada sisa jajan dan minuman di tempat dulu dia biasa nongkrong. Dia langsung menyantap habis makanan dan meminumnya. Dari belakang pak ustaz datang menegurnya mengapa minum minuman keras lagi. "Anu…,saya takut jadi mubazir ustaz, karena mubazir itu perbuatan setan" Katanya dengan polos. 

Senin, 07 Maret 2022

Pentigraf "BU LAN YANG TERJATUH"

Pentigraf

BU LAN YANG TERJATUH

Ridhan Hadi



Paman Ceper. Kapan dia akan bertaubat? Tidak satupun dari orang di rumah ini yang tidak pernah menjadi korban kejahilannya. Bapak, Ibu, Bibi Taty, Adit, adikku yang masih SD. Ratu, kakakku yang baru kelas satu SMA. Dan yang paling sering dijahili Paman, Nenek Lantini, si gembrot. Tetangga sebelah yang setiap malam ke rumah datang bergosip dengan ibu dan Bibi Taty, kadang tidak peduli sampai larut malam. 


      Kejahilan Paman bukan hanya kepada orang di rumah, orang di luar rumah juga sering menjadi korban kejahilannya. Dua hari yang lalu tukang somay. Jatuh tersungkur, karena baut rodanya dicabut Paman. Deden, ditarik celananya sampai melorot. Tatang, pantatnya kepanasan, paman taruhkan saus cabe di kursi tempat duduknya. Paman memang kadang keterlaluan.


       Malam ini Paman Ceper sakit. Banyak koyo yang menempel di pelipisnya. Semoga sakitnya ini akan membuat paman sadar dan bertaubat. Aku berdoa penuh harap. Paman Ceper berbaring di sampingku sekembalinya dari kamar kecil. Tak lama waktu berselang. Duar…!!! Terdengar ada benda jatuh dari kamar mandi. Paman ada suara benda jatuh dari kamar mandi, kataku terkejut. "Bu Lan yang terjatuh, paman taruhkan minyak goreng di lantai kamar mandi." Jawab paman dengan santai. Paman..., paman, dalam kondisi sakit, masih sempat kau menjahili orang.

Minggu, 06 Maret 2022

Pentigraf "MENUNGGU AJAL"

 

Pentigraf

MENUNGGU AJAL

Ridhan Hadi


Suara ledakan dan tembakan terdengar berbalasan. Ledakan terjadi di mana-mana. Sudah hampir seluruh gedung jalan kota Kiev, Ibu Kota Ukraina hancur terkena bom tentara Rusia. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Aku sendiri sedang bersembunyi di balik reruntuhan Hotel Ukraina, Jalan Heroyiv Nebesnoyi Sotni Alley. Pura-pura terbaring di samping mayat-mayat warga, agar dianggap mati oleh tentara Rusia. 


    Aku mencoba menggerakkan kaki. Namun sungguh tak sanggup bagiku, dua hari yang lalu  dia terkena runtuhan bangunan yang terjatuh menimpa mobil, tubuhku juga sempat terjepit. Namun aku berhasil keluar. Bau menyengat dari mayat-mayat yang sudah meninggal dua hari kemarin, membuat pernapasanku sesak. Ditambah darah yang mengalir tak henti dari kaki dan pelipisku, membuat pandanganku berpinar-pinar. Aku juga tak panjang harapan, mungkin nyawaku sebentar lagi akan hilang.


     Duarr…!!, Duarr…!!, Suara gemuruh ledakan bom yang bertubi-tubi menghantam Museum of Jellyfish samping Hotel Ukraina. Aku khawatir sasaran berikutnya Hotel ini. Aku berlindung di balik mayat yang dikerumuni lalat. Tak ada regu penolong, suasananya begitu mencekam. Selang waktu setelah ledakan. Aku melihat ibuku keluar dari balik gedung yang baru saja menjadi sasaran. Syukur Tuhan, dia selamat. Dua hari yang lalu aku datang menjemputnya. Namun, serangan itu begitu cepat. Ku pikir Ibuku telah tiada. Dia berjalan tertatih-tatih mendekatiku. Samar aku melihatnya karena debu-debu masih bertebaran di mana-mana. Sayup terdengar dia memanggilku, namun tak berapa lama semakin jelas terdengar. "Adi…,Adi…, Bangun sudah hampir pukul delapan…, kamu tidak berangkat kerja!!!" Teriak mama membangunkanku. Ternyata itu hanya mimpi, pengaruh menonton perang Ukraina vs Rusia tadi malam.

     


   

Sabtu, 05 Maret 2022

Pentigraf "ADUH KETINGGALAN"

 

Pentigraf

ADUH KETINGGALAN  


Ridhan Hadi


    Sebagai guru Pak Rudy sudah dibekali dengan pola pendidikan merdeka belajar. Murid diberikan kebebasan belajar yang bertanggung jawab dengan cara yang mereka inginkan. Guru hanya sebagai fasilitator. Memfasilitasi kegiatan belajar yang disenangi oleh murid. 


       Namun tidak semua murid senang belajar, walaupun sudah menggunakan berbagai macam strategi dalam pembelajaran. Sebagian murid datang sekolah, hanya karena alasan, tidak ada teman main di rumah, sebagian lagi untuk mendapatkan uang jajan dari orang tuanya. Pulang sekolah, pergi keliaran dan nongkrong merokok di warung pinggir tegalan. Setiap di tanya, tugasnya mana?, jawabnya ketinggalan. Simple, tanpa ada rasa bersalah. Begitu pula dengan salah satu murid binaan Pak Rudy. 


     Tiba saat pembagian raport. Murid yang bermasalah tidak naik kelas. Menangis dan merengek kepada Pak Rudy. "Pak Mengapa nilai matematika saya kosong?" Dengan santai Pak Rudy menjawab, "Aduh…, nilaimu ketinggalan. Murid itu Kebingungan sudah enam guru dia tanyakan, jawabannya selalu sama, Ketinggalan. 


Pentigraf "AKIBAT MELAWAN ARUS"

 

Pentigraf

AKIBAT MELAWAN ARUS


Ridhan Hadi


       Kutatap langit yang begitu terik, panasnya membara serasa menembus sukma. Ingin Aku melihat sang surya berlari dengan cepat menerabas awan tipis yang menghalanginya,  agar penderitaanku sedikit berkurang. Lamban terasa waktu berjalan. Sembilan belas tahun aku lewati bagai seabad. Sisa enam bulan begitu panjang terasa. Sangat menyakitkan. Oh…, 3 Juni 2022, Aku  memimpikanmu. 


        Sampai siang ini, sudah hampir  lima kali aku melawan derasnya Kali Gaten, membawa batu kapur dengan kondisi kaki dan tangan dirantai. Debit airnya bertambah semenjak langit menjerit, menumpahkan air mata kemarin sore, sudah dua napi kelas  IIA Kembang Kuning menjadi korban keganasan Gaten. Kami dipaksa melewatinya tanpa pengaman.


         Kali ini aku dipasangkan dengan Jagger. Si Killer Hunter. Entah berapa orang yang sudah menjadi korbannya. Dari rakyat jelata sampai pejabat dan teknokrat. Dia tidak seperti Aku, gagal sebelum beraksi. Ku minta istirahat sejenak, badanku terasa kaku. 70 kg dengan jarak lima ratus meter, melewati bukit dan kali yang deras, membuat aku tak berdaya. Nafasku hampir putus. Aku berbaring di tanah lumpur. Si Killer menatapku seraya senyum mengejek, lalu menyindirku dengan sindiran pamungkasnya. "Sekarang kamu tau rasa…, itu akibat melawan arus". Aku penggagas makar membunuh presiden, karena berbeda paham.

Jumat, 04 Maret 2022

PENTIGRAF TERDENGAR "TUHAN MENANGIS"

PENTIGRAF

TERDENGAR "TUHAN MENANGIS"

Ridhan Hadi



     Gemerincing suara air terjatuh dari sela-sela genteng yang pecah, bagai alunan gamelan yang dipukul penabuh. Terdengar juga suara gemuruh mengiring, menggelegar di balik pembatas aku dengan langit. Seakan tak mau jauh dariku. Berputar sekitar lereng Rinjani. Namun, aku merasa risih dengannya. Ingin aku selimuti bumi ini, agar tidak tersentuh oleh pijarnya yang membakar. terasa badan ini gemetar. Suaranya begitu lancang. Merasuk sampai sukmaku yang paling dalam. Membuat telingaku enggan mendengar. Mataku pun sulit terpejam.


      Malam itu sangat mencekam. Gemuruh bersahutan, menggelegar seakan membelah langit lereng Rinjani. Di sela suara, terdengar teriakan dari kejauhan meminta tolongan. Hah…, ini sudah kuduga lereng itu takkan pernah mau bersahabat lagi, karena begitu banyak pohon yang kalian jarah darinya. Lereng Rinjani longsor menimpa rumah penduduk. Dia meminta korban karena kebrutalan jiwa yang haus akan kekayaan.


       Terdengar suara riuh datang mendekat ke pondok kecilku. Istriku langsung berteriak memanggil namaku, ternyata yang dibawa orang-orang tadi adalah putraku yang terkena longsor lereng Rinjani. Aku mengira dia sudah pulang dari temannya. Tak sabar rasanya ingin aku menamparnya. Suaraku sudah ku angkat siap meraung, Ku lihat putraku ketakutan. aku ingin segera memberi pelajaran. Namun, istriku melarang agar jangan melanjutkan. Dia memeluk putranya sambil berkata lirih "Tu Han menangis gara-gara Bapak marahi". Aku melongok terdiam, butuh beberapa saat untuk mengerti apa yang dikatakan istriku. Ternyata, yang dimaksud istriku. Handika, putra kami menangis karena aku marahi. 


Kamis, 03 Maret 2022

 Pentigfar

"TERSALIB"

Ridhan Hadi


    Vina akan segera menikah, kami janjian bertemu di cafe ini. Dia akan mampir sebentar untuk memberiku surat undang pernikahannya. Dia bilang tidak bisa lama karena calon suaminya di Surabaya sedang menunggu. Aku senang Vina yang dulunya pendiam akhirnya mendapatkan jodoh. Jadi, aku tidak perlu lagi mencarikan pasangan untuknya.


    Aku juga tidak lama lagi akan segera dilamar. Orangnya sungguh luar biasa. Namanya Agus, Agus Tryo Bijaksono, Dia berhasil meluluhkan hatiku. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, bagaikan bait-bait syair pujangga penakluk wanita. Tatapan matanya menggetarkan jiwaku. Hah…, Tak bisa ku ceritakan semuanya. Mas Agus sempurna dimataku. Tiga bulan sudah berlalu dengannya. Waktu yang cukup untuk saling mengenal. Aku juga semakin baik setelah bersama Mas Agus, sudah bukan pemarah lagi. Sekarang, tiada hari tanpa senyuman. Bersama Mas Agus Aku merajut cinta dalam nyata, menggapai mimpi dalam angan. Berjanji untuk bersama dalam ikatan suci.  Mas Agus akan melamarku setelah kembali dari Surabaya.


Ku minum jus yg sudah Aku pesan, Tampa sadar aku melihat seorang wanita cantik di hadapanku. Ya, dia adalah Vina. Aku peluk melepas kangenku padanya. Dia tak bisa lama duduk bersamaku. Dengan bergegas Vina memberikan surat Undangannya dan pergi sambil berteriak padaku agar jangan lupa datang ke pesta pernikahannya. Ku buka surat itu. Tertulis jelas di dalamnya, nama Vina dengan Calon suaminya " Vina Dewanti Putri dan Agus Tryo Bijaksono". Ternyata Mas Agus pergi ke Surabaya untuk menikah dengan Vina. Hatiku hancur.

Pentigraf "MENUNGGU"

 Pentigraf

"MENUNGGU"

Ridhan Hadi


       Matahari terlihat begitu cerah pagi  ini, secerah hatiku, karena tunanganku akan menelpon pukul sembilan pagi ini. Mas Bima berangkat ke rumah Om Ferdi, pamannya di Jakarta. Aku harus menepati janjiku tidak menelponnya sampai Mas Bima sendiri yang menelpon, aku menerimanya walapun ini berat bagiku. Aku duduk di depan rumah sambil memegang  handphoneku. 


   Sambil menunggu, Aku  melihat galeri foto-foto bersama Mas Bima. Teringat kenangan bersamanya di Malioboro, Candi Ratu Boko, Prambanan, Museum Ullen Sentalu,  Taman Sari, Pantai Parangtritis, Stonehenge Cangkringan, dan yang tidak akan terlupakan teriakanku yang begitu keras waktu naik gondolan di Pantai Timang. Mas  Bima ikut tegang melihatku. Sangat menguji adrenalin. 


       Aku tersenyum menatap langit, melihat Sang Surya semakin meninggi. Tak lama berselang, ada panggilan dari Mas Bima, Aku segera mengangkatnya, tak ku berikan kesempatan Mas Bima bicara, ungkapan rasa rinduku sudah tak terbendung. Tapi sepintas terdengar bukan suara Mas Bima" Halo, Yen", dengan nada pelan suara wanita yang tak asing bagiku  berbicara, "Yeni  sayang...,ini mama nak, maafkan mama, baru sekarang mama telpon karena ini pesan Mas Bimamu sebelum meninggal dalam kecelakaan beruntun tadi malam. Aku terdiam air mataku tak terbendung, pandanganku gelap badanku lemas, terdengar sepintas, sambil menangis mama melanjutkan bicaranya, namun aku tak mendengar apa-apa lagi.

Cerpen "MENUNGGU PANGGILAN"

 Cerpen

MENUNGGU PANGGILAN

Ridhan Hadi


Namanya Bima, Bima Andika Pratama. Laki-laki yang membuat aku kesemsem. Berhasil meluluhkan hatiku. Hati yang terbelenggu dalam trauma akan cinta.  Jika dia di sampingku, waktu berjalan begitu cepat. Gairah cintaku meronta-ronta. Kata-kata yang keluar dari lisannya, bagaikan bait-bait syair pujangga cinta. Tatapan matanya menggetarkan jiwaku. Hah…, Tak bisa ku ceritakan semuanya. Mas Bima sempurna dimataku. 


Sudah hampir tiga bulan  aku bersamanya. Banyak yang berubah dalam diriku. Yeny, Derna, Yuki dan  teman-teman kerjaku bilang, Aku sekarang tidak menjadi pemurung, dan pemarah lagi, lebih periang, seperti orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Tiada hari tanpa senyuman. Bersama Mas Bima Aku merajut cinta dalam nyata, menggapai mimpi dalam angan. Berjanji untuk bersama dalam ikatan suci.  Mas Bima akan melamarku setelah kembali dari Jakarta.


Matahari terlihat begitu cerah pagi  ini, secerah hatiku, karena Mas Bima akan menelponku pukul sembilan pagi ini. Mas Bima berangkat ke rumah Om Ferdi, pamannya di Jakarta. Aku harus menepati janjiku tidak menelponnya sampai Mas Bima sendiri yang menelponku, aku menerimanya walapun ini berat bagiku. Aku duduk depan rumah sambil memegang  handphoneku.


Sambil menunggu, Aku  melihat galeri foto-foto bersama Mas Bima.   Teringat kenangan bersamanya di Malioboro, Candi Ratu Boko, Prambanan, Museum Ullen Sentalu,  Taman Sari, Pantai Timang, Pantai Parangtritis, Stonehenge Cangkringan, dan yang tidak akan terlupakan teriakanku yang begitu keras waktu naik gondolan di Pantai Timang. Mas  Bima ikut tegang melihatku. Sangat menguji adrenalin.


Aku tersenyum menatap langit, terlihat Sang Surya semakin meninggi. Tak lama berselang, ada panggilan dari Mas Bima masuk di handphoneku, Aku segera mengangkatnya, tak ku berikan kesempatan Mas Bima bicara, ungkapan rasa rinduku sudah tak terbendung. Tapi sepintas terdengar suara wanita" Halo, halo, Yeni", dengan nada pelan suara wanita yang tak asing bagiku  berbicara, "Yeni  sayang,...ini mama nak, maafkan mama, baru sekarang mama telpon karena ini pesan Mas Bimamu sebelum meninggal dalam kecelakaan beruntun tadi malam. Aku terdiam air mataku tak terbendung, pandanganku gelap badanku lemas, terdengar sepintas sambil menangis mama melanjutkan bicaranya, namun aku tak mendengar apa-apa lagi.

Selasa, 01 Maret 2022

Pentigraf DUA DALAM SATU

 

 Pentigraf

DUA DALAM SATU

Ridhan Hadi

Deni sudah begitu lama tertarik pada Citra. Setiap hari dia berkhayal kalau dirinya kekasih Citra. Bahkan dalam mimpinya ingin sampai berkeluarga dengannya. Citra memang tiada duanya. Cantik, ramping, putih, pokoknya semua yang diidamkan laki-laki ada padanya. Namun harapan Deni pupus semenjak Citra pindah ke Surabaya. Masalah perasaannya ini sering dia ceritakan kepada Rendy temannya.

Di kafe tempat Deni sedang duduk santai, Rendy datang. Dia mengajak Deni untuk berkenalan dengan tantenya, tapi dengan tegas ditolak, karena di benaknya hanya ada Citra. Dia tidak mau mengkhianati rasa yang ada dalam dirinya. Rendy menyuruh Deni melupakan Citra, karena menurut Rendy, tantenya jauh lebih cantik dari Citra. Tanteku namanya Dita, kata Rendy. Sekali lagi Deni menegaskan bahwa dia tidak butuh Dita, dia hanya butuh Citra. Suara Deni terdengar lantang dan agak berteriak.

Tak lama kemudian setelah perdebatan itu,  seorang wanita cantik hadir di belakang Deni, menyapa sambil merangkul Deni, "Ya Mas Deni, namaku Dita Citra Wulandari, tantenya Rendy. Aku baru datang dari Surabaya kemarin sore.” Keduanya melongo, terdiam dengan campuran rasa yang tak bisa diceritakan. 




PENTIGRAF " LUPANYA SI PELUPA"

 

Pentigraf

LUPANYA SI PELUPA

oleh: Ridha Hadi


   Aku masih jengkel dengan apa yang disangkakan Kak Tuty kepadaku. Dia bilang aku pikun. Padahal kemarin waktu mandi pagi, keran air aku matikan, tapi dia bilang, kerannya masih terbuka sampai siang.  Piring sisa makanku juga sudah aku masukkan, tetapi Kak Tuty bilang masih di angkringan depan rumah. 

        Pasti ini Akal-akalan Kak Tuty. Aku curiga. Tampaknya dia yang buka keran kembali dan mengeluarkan piring itu lagi. Agar aku terlihat seperti pelupa. Seingatku, Aku lupa  hanya dua kali saja.  Lupa siram closet selesai BAB dan lupa pakai celana waktu berangkat ke kampus. O ya, satu lagi  meninggalkan motor di kampus karena membawa motor yang berbeda. Itu saja, Ndak banyakan. 

    Langkah kaki Kak Tuty menuju dapur. Membangunkanku dari lelap sejenak di ruang tamu. Aku ambil komik yang belum selesai ku baca. Namun ada yang aneh, aku tidak melihat kaca mataku di atas meja, ini pasti ulah Kak Tuty. Kecurigaan ku bertambah. Ini sudah tidak bisa di biarkan. Kak Tuty sudah keterlaluan. Aku langsung menuju dapur menemui Kak Tuty dan menanyakan kaca mataku dengan nada ketus. Kak Tuty tertawa lebar melihatku. "Den, den, Kacamatamukan sedang kamu pakai" kata Kak Tuty sambil menunjuk ke arah mukaku. Ternyata memang benar Aku lupa lagi.

Pentigraf "PINANGAN MAS BAGAS"

Pentigraf


PINANGAN MAS BAGAS

Oleh: Ridhan Hadi


    Butuh dua minggu untuk menimbang, mengolah rasa dalam diriku. Rasa yang sulit aku munculkan lagi, hingga membuat begitu banyak pria yang tersakiti. Kesepian tak  mampu menggugah  hatiku menerima mereka  yang menaruh harap padaku. 


      Butuh waktu lama untuk membujuk rasa ini agar bisa menerimanya. Sudah hampir enam bulan dia mendekatiku. Tak bisa aku menghitungnya, begitu banyak trik yang dia gunakan untuk memunculkan kembali rasa dalam diriku. Dia  tak kunjung berhasil. 


      Entah mengapa setelah sekian lama, akhirnya malam ini hatiku luluh juga. Kutatap langit sambil berdoa semoga keputusanku ini tepat adanya. Dengan yakin, Kuambil ponselku dan menelepon Mas Bagas untuk menerima pinangannya. Hampir tiga kali aku mengulang panggilan. Akhirnya dia mengangkatnya. "Halo ini siapa? kok tidak ada namanya ya,  maaf suamiku belum menyimpan nomernya, halo, halo". Tak sadar handphoneku terjatuh. Aku terdiam, pikiranku kosong, dadaku sesak, air mataku mengalir. Aku terlambat. Mas Bagas sudah menikah.

Kenangan

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH

ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...