Pentigraf
AKIBAT MELAWAN ARUS
Ridhan Hadi
Kutatap langit yang begitu terik, panasnya membara serasa menembus sukma. Ingin Aku melihat sang surya berlari dengan cepat menerabas awan tipis yang menghalanginya, agar penderitaanku sedikit berkurang. Lamban terasa waktu berjalan. Sembilan belas tahun aku lewati bagai seabad. Sisa enam bulan begitu panjang terasa. Sangat menyakitkan. Oh…, 3 Juni 2022, Aku memimpikanmu.
Sampai siang ini, sudah hampir lima kali aku melawan derasnya Kali Gaten, membawa batu kapur dengan kondisi kaki dan tangan dirantai. Debit airnya bertambah semenjak langit menjerit, menumpahkan air mata kemarin sore, sudah dua napi kelas IIA Kembang Kuning menjadi korban keganasan Gaten. Kami dipaksa melewatinya tanpa pengaman.
Kali ini aku dipasangkan dengan Jagger. Si Killer Hunter. Entah berapa orang yang sudah menjadi korbannya. Dari rakyat jelata sampai pejabat dan teknokrat. Dia tidak seperti Aku, gagal sebelum beraksi. Ku minta istirahat sejenak, badanku terasa kaku. 70 kg dengan jarak lima ratus meter, melewati bukit dan kali yang deras, membuat aku tak berdaya. Nafasku hampir putus. Aku berbaring di tanah lumpur. Si Killer menatapku seraya senyum mengejek, lalu menyindirku dengan sindiran pamungkasnya. "Sekarang kamu tau rasa…, itu akibat melawan arus". Aku penggagas makar membunuh presiden, karena berbeda paham.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar