Senin, 21 Maret 2022

Pentigraf "TAKUT JADI SETAN"

 

Pentigraf

TAKUT JADI SETAN

Ridhan Hadi


Si Rudi sebelumnya adalah pemabuk berat. Namun dua minggu yang lalu dia sudah bertaubat, dia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya. sekarang dia sering ke masjid untuk mendengar ceramah ustaz. Apa yang disampaikan ustaz selalu dia amalkan.


Malam ini dia agak sedikit terlambat datang ke masjid. Sepintas terdengar jelas apa yang disampaikan oleh ustaz di dalam masjid, bahwa kita jangan sampai membuang-buang makanan dan minuman karena itu adalah perbuatan yang mubazir dan mubazir itu perbuatan setan. 


Setelah balik dari masjid dia melihat ada sisa jajan dan minuman di tempat dulu dia biasa nongkrong. Dia langsung menyantap habis makanan dan meminumnya. Dari belakang pak ustaz datang menegurnya mengapa minum minuman keras lagi. "Anu…,saya takut jadi mubazir ustaz, karena mubazir itu perbuatan setan" Katanya dengan polos. 

Kamis, 17 Maret 2022

Kisahku "My Father is Pioner"

My Father is Pioner



"My Father is Pioner "

Narasi

My Father is Pioner adalah tulisan kecil yang menceritakan tentang bagaimana perjalanan hidupku dengan orang yang telah memberikan begitu banyak bimbingan yang menjadi inspirasi kepadaku dari masih kecil sampai dewasa. Dia adalah orang yang paling berjasa dalam hidup ku sampai aku seperti sekarang. 

Ayah selalu mendidikku dengan ketegasannya. Tidak jarang berakhir dengan emosi dan amarah. Waktu itu aku masih sangat muda untuk memahami arti dari kasih sayang  seorang Ayah. Butuh waktu yang lama untuk membuat mataku terbuka menyadari arti penting sebuah ketegasan.  Semuanya berawal dari rasa khawatir ayahku terhadap pergaulan yang tidak aman di  lingkungn masa kecilku. baiklah.., dalam kisah kali ini, aku akan menceritakan detik-detik kebersamaaku dengannya. 


My Father is Pioner

RIdhan Hadi


Kau begitu lemah sekarang. Sudah tidak banyak kata yang keluar dari mulutmu, terkadang melihat dengan tatapan kosong. Menatap sudut ruang tamu yang dulu pernah kau hias dengan tanganmu. Jemarimu sudah tak kuat lagi untuk digerakkan, jangankan untuk mengambil sendiri gelas air minum, menarik selimut pun engkau sudah tak mampu. Butuh bantuan orang lain untuk melakukannya. Kau pun tak mampu berdiri tanpa dipapah. Sungguh berat keadaanmu sekarang. 


Terkadang aku melihat air mata mengalir dari sudut mata yang sudah bergelambir. Sekilas terlihat seperti orang yang memikirkan sesuatu. Entah apa yang ada dalam benakmu. Yang jelas sekarang aku kembali untukmu. 


Kemarin sore Aku datang dari Manggelewa, Dompu. Salah satu kabupaten di Pulau Sumbawa. Tempat tugasku dari sepuluh tahun yang lalu. Jaraknya ± 310 km, 12 jam perjalanan dari tempat tinggal orang tua. Aku bekerja sebagai Pengajar di tempat itu.  Aku agak jarang pulang karena jarak dan tugas mengajar yang tidk bisa ditinggalkan. 


Paman Adi dan Bibi Ewi, panggilan untuk adik bungsu ku dan Istrinya. Merekalah yang tinggal bersama Ayah dan Ibu saat ini. Mengurus berbagai macam keperluan nya. Tentu kita tahu bagaimana beratnya mengurus orang tua yang sedang sakit. Namun yang membuatku sangat terkejut adalah Ibuku, badannya sekarang terlihat begitu kurus. Dia bilang pengaruh kurang tidur karena mengurus Ayah. Baru terlelap sebentar sudah terbangun karena ayah memanggil, kadang hanya untuk minta ditemani atau mengambil sesuatu. Ya..aku melihat Ayah memang sedikit manja kepada ibuku, jangankan waktu sakit seperti ini, sehat pun, dia tak pernah mau jauh dari Ibuku. 


Aku masih teringat bagaimana kasih sayang mereka waktu itu. Kemanapun selalu berdua. Memperlihatkan ikatan cinta yang begitu kuat diantara mereka, walaupun sudah usia lanjut, tetap saja seperti orang muda pada umumnya. Kadang ke pantai melihat hasil tangkapan ikan nelayan atau silaturahmi ke rumah kerabat dan bahkan berkunjung ke teman akrab Ayahku yang jarak tempat tinggalnya cukup jauh. Mereka juga sering pergi memancing berdua. Karena ayahku suka sekali menangkap ikan. Selain dengan pancing, terkadang juga dengan jala, jaring, dan alat penangkap ikan tradisional lainnya. 


Ayahku juga orangnya sangat humoris. Waktu belum pensiun,  jika tidak masuk sehari saja, muridnya kadang mencarinya, Ayah mengajar di salah salah satu Sekolah Dasar dekat rumah. Kata mereka "kalau tidak ada pak guru ndak rame di sekolah." Aku sebagai anak merasa bangga punya ayah yang diidolakan muridnya. 


Ayah juga adalah orang yang mengajarkanku banya hal. Bagiku Ayah adalah sosok yang serba bisa. Waktu aku masih kecil dulu aku sering melihat dia memperbaiki radio, TV dan motor. Ayah juga suka menggambar. Mungkin darah seni ini yang mengalir kepadaku. 


Banyak kelebihan ayahku yang mungkin ceritanya tidak bisa dalam satu buku. Karena dia yang mengajarkan aku cara bertahan hidup dalam kondisi sulit, menghadapi orang yang berbeda watak, mengambil keputusan dengan cara yang tepat. Ayahku juga mengajarkan aku tentang ketegasan, selalu memberikan support jika batinku dalam keadaan terpuruk. Tetap membimbingku dengan ketegasannya agar aku menjadi orang yang tidak membuat malu keluarga dimasa yang akan datang. 


Kini dia terbaring lemah tak berdaya matanya tertutup. Dia sepertinya mimpi indah. Wajah yang penuh dengan garis penuaan. Aku menatap tubuh yang terbujur lemah tak berdaya. 67 tahun bukan usia yang sedikit baginya. Napasnya kadang terputus tak stabil. Seperti suara daun pintu yang terkoyak, napas itu keluar-masuk dari tenggorokan.


Aku merasa malu kepada diriku. Seorang ayah yang begitu berjasa kepadaku. Namun jarang sekali Aku mengunjunginya. Kadang sekali atau dua kali dalam setahun. Waktu yang cukup lama untuk orang yang telah memberikan perubahan besar dalam hidupku.

 

Besok Aku sudah kembali karena tugasku sudah menanti. Aku tidak ingin dikatakan orang yang melalaikan kewajiban. Walaupun Hatiku sebenarnya menolak keinginan ku untuk pergi.


Dua hari sudah aku disini dan malam ini sedikit ada perubahan. Sekarang dia sudah bisa tidur dengan lelap. Napasnya sudah mulai stabil, tubuhnya yang bengkak pun sudah mulai mengempis. Semoga kesehatannya cepat pulih.


Mataku sudah sulit terpejam dengan baik. Karena aku saja yang sekarang bangun menjaga ayahku yang sedang terbaring. Anaknya yang jarang pulang ini. 


Disela keterjagaan ku. Aku berdoa semoga SK Mutasi ku cepat keluar. Dua bulan yang lalu aku mengusulkannya. Aku ingin merawat orang tuaku mengajaknya jalan ke tempat yang mereka sukai, makan di lesehan dan wisata spiritual ke makam para ulama seperti yang mereka katakan waktu menelponku kemarin. 


***


Pukul sembilan pagi aku sudah naik Kapal feri menuju tempat kerjaku. Masih terekam jelas di telingaku pesan ayah dan ibu menjelang keberangkatanku tadi. Dia inginkan agar aku jangan terlalu lama di Dompu. "Cepat balik lagi, kamu harus lebih sering menengok ayahmu" Kata ibuku. "Sebelum kamu menyesal" Tambah ayahku dengan suara pelan. Aku menatap kedua orang tuaku yang terlihat sudah tak berdaya, tak sanggup rasanya harus pergi meninggalkan keduanya dengan keadaan seperti ini, jasa mereka tak terbalaskan, karena mereka aku terlahir ke dunia ini, Karena mereka aku berhasil seperti ini. Namun tugas menungguku. Aku mencium tangan dan memeluknya sebagai bukti cinta dan hormat ku kepadanya.


Tuuuut.!! Suara sirene, tanda kapal akan segera sampai di pelabuhan. Selang beberapa lama kapal bersandar dan membuka pintu keluarnya. Aku segera menarik gas memacu kendaraan ku dengan kencang agar malam tidak menyapaku sebelum sampai di tujuan. Alhamdulillah, aku sampai dengan selamat.


***


Selesai mengerjakan kegiatanku di Sekolah aku duduk di emperan musholla sehabis sholat duha. Aku menatap sekolah, mengontrol siswa dari kejauhan. Agar kondisi Sekolah tetap stabil. Dulu mereka masih mungil dan imut, pikirku. Waktu berjalan begitu cepat, sekarang mereka sudah remaja, sebentar lagi akan tamat dari Sekolah ini, rasanya begitu menyenangkan berhasil mendidik mereka sampai selesai. Begitu banyak suka-duka belajar bersama mereka. Untuk membuatnya menjadi disiplin butuh perjuangan yang extra berat. Tidak jauh beda dengan zaman ku dulu. aku melihat teman-temanku dimarahi guru, kadang guru sampai berteriak, membentak menghadapi teman sekolahku yang tidak disiplin. Ternyata begini rasa guruku dulu. Wajar jika mereka sampai emosi.


Aku jadi ingat waktu kecilku juga, ayah sering memarahiku karena telat pulang main, atau bermain dengan orang yang salah. Kadang sampai dipukul. Sampai-sampai aku berpikir agar tidak punya ayah seperti dia. Aku lihat teman yang lain tidak seperti ayah. Anaknya main dengan siapa saja dan pulang kapanpun dia tidak dimarahi. Jauh berbeda denganku. Namun itu pikiran diwaktu kecilku. Sekarang baru aku sadar ayahku segalanya bagiku ternyata dia melakukannya karena begitu sayang padaku. Dia tidak ingin anaknya bergaul dengan orang yang salah, apalagi sampai celaka. Ayah aku bangga padamu.


Berrr, getaran handphone terasa dari kantong celanaku. Aku tidak memperdulikannya sepertinya hanya chat yang masuk. Aku melanjutkan mengenang masa kecilku dengan ayah. Namun getaran itu kembali dan tidak berhenti. Aku melihat ternyata Paman adi yang menelpon. Aku sangat senang, dia pasti akan mengabarkan keadaan ayah seperti kemarin. Ayah sudah lebih baikan sehabis berobat ke salah satu rumah sakit di kota Mataram. Aku langsung mengangkat panggilan paman Adi. "Ya,....Halo Paman" tanpa memberikan kesempatan bicara paman Adi aku lanjutkan saja bicara ku. "Pasti sekarang ayah sudah bisa jalankan, kemarin sudah bisa duduk. Senang rasanya perubahanya begitu cepat" kataku, "Paman, nanti kita pergi ziarah makam dan makan di lesehan, pokoknya kita ajak Ayah dan ibu keling jalan-jalan sampai puas" Aku bicara dengan cepat. Namun dibalik telpon terdengar suara lirih paman Adi "Halo..., halo Kak,..Ayah sudah pergi meninggalkan kita semua, cepat pulang, besok kita antar ke tempat peristirahatan terakhirnya" Aku termenung dengan tatapan kosong, tak terasa handphone ku terjatuh. Seakan tak percaya. Orang yang paling berharga dalam hidupku telah tiada. Airmataku menetes tak terbendung. Ayah suatu saat aku akan menyusulmu, doaku selalu untukmu. Ayah "You are a pioneer for your children"


Pentigraf "Kisah yang Kelam"

Pentigraf

Kisah yang Kelam

Ridhan Hadi


   Kisah ini menceritakan tentang sisi lain dari seorang siswi yang  pagi harinya pergi sekolah, sore hari bermain dengan teman-temannya dan pada malam hari menjajakan tubuh untuk laki-laki hidung belang, demi memenuhi kebutuhan hidupnya. 

   Tidak banyak orang yang mau mengerti akan dirinya, dia selalu dicemooh dengan sikap liarnya di sekolah, kadang dia sering berkelahi dengan teman-temannya, saling mencaci-maki dengan bahasa-bahasa kotor. Guru pun kadang sering menjadi objek makian nya. Baginya sikap atau perintah guru yang dia anggap tidak sesusi layak untuk dibantah. 

   Dalam kisah ini juga akan diceritakan, bagaimana perjalanan dia dengan begitu banyak pria yang pernah tidur dengannya, dimana itu bukan hanya bagi orang-orang yang bisa membayarnya. Namun juga dari orang-orang yang seharusnya memberikan perlindungan kepadanya, termasuk kekasih hatinya. Hari-harinya begitu kelam, penuh dengan derita dan air mata. Terkadang tiba-tiba tertawa tanpa ada sebab. Tatapan mata kosong menjadi ciri khasnya jika baru pulang diantar dari pesanan. Namun dia terpaksa harus menjalaninya. "Papar Narator sebelum lampu menyorot pemain dalam pementasan teater."


Kenangan

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH

ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...