Selasa, 29 Juni 2021
Budaya Positif 5S Membentuk Karakter Peserta Didik
PGP-Angk2-Kabupaten Dompu-Ridhan Hadi-1.4-Rancangan Aksi
Budaya
Positif 5S Membentuk Karakter Peserta Didik
Oleh:
Ridhan Hadi,
S.Pd.
SMAN 2 Manggelewa
Calon Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Dompu
A. Latar Belakang
Budaya positif merupakan salah satu ciri dari
sekolah yang menanamkan karakter pada anak. Sekolah adalah salah satu pembentuk
karakter yang peranannya sangat penting dan utama. Karakter yang kuat
akan membentuk Peserta didik menjadi manusia yang tangguh dan mampu bertahan
dalam perkembangan zaman yang tiada henti. Jika tidak mereka akan tergerus oleh
pengaruh buruk perkembangan tersebut. Kondisi ini akan sangat berbahaya jika
pesera didik tidak kita tanamkan karakter yang kuat sebagai filter untuk
menangnkal arus negatif dari perkembangan zaman yang terjadi.
Sebagaimana yang sering lihat Saat ini, nilai etika dan budaya di berbagai kalangan,
khususnya pada generasi muda mulai mengalami pergeseran. Pergeseran itu
meliputi maraknya pergaulan bebas dan anacaman pornografi, kekerasan, dan
kerusuhan yang berujung pada tindakan anarkis. Dapat kita ketahui bahwa kondisi
karakter para generasi muda terkhususnya para peserta didik di sekolah masa
sekarang, sangat memprihatinkan baik secara emosional, tindakan, maupun prilaku
sosial mereka. Bahkan, sering kita jumpai di media massa baik surat kabar maupun
televisi, tentang pelajar yang saat ditegur oleh guru karena melakukan
kesalahan, mereka malah cenderung melawan kepada gurunya dengan
tindakan-tindakan yang kurang pantas. Bukan hanya itu, bahkan karena tidak
memiliki etika, mereka melakukan kekerasan fisik dan mental kepada gurunya,
hanya karena masalah yang sederhana. Dan masih banyak lagi bentuk tindakan
anarkis yang lain. Pergeseran nilai etika dan budaya inilah penyebab generasi
muda di zaman ini kehilangan jati dirinya. Kebanyakan dari mereka melupakan
nilai luhur yang telah ditanamkan kepada dirinya sejak kecil oleh orang tua dan
leluhurnya.
Permasalahan di atas adalah
sebagian kecil masalah yang disebabkan oleh menurunnya etika, moral dan buadya
di masa sekarang. Dalam kecanggihan dan kemodernan hidup di masa ini, telah
membentuk manusia yang serba berpikir praktis untuk mencapai tujuan. Sehingga,
banyak generasi muda yang mendahulukan emosi dalam menyelesaikan masalah dan
melupakan apa dampak yang ditimbulkan. Kesenangan sesaat menjadi tolak ukur
kebahagiaan dirinya, dan melupakan apa dampak yang akan ditimbulkan untuk orang
lain.
Disinilah tantangan semakin besar di masa sekarang.
Oleh karena itu, pendidikan di sekolah memiliki peran yang penting. Beberapa
ranah pendidikan yang dikenal pada saat ini adalah, pendidikan intelek,
pendidikan ketrampilan, pendidikan sikap, dan pendidikan karakter (watak). Saat
ini di sekolah, pendidikan karakter semakin digalakan. Hal itu menciptakan
berbaga model/program penanaman karakter bagi peserta didik di lingkungan
sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lain.
Pendidikan karakter yang menekankan pada berbagai
dimensi dalam proses pembentukan pribadi, diharapkan mampu membendung berbagai
kemungkinan-kemungkinan negatif yang secara perlahan akan menghilangkan budaya
bangasa ini. Sehingga diharapkan permasalahan yang timbul dari pergeseran etika
dan moral yang dilakukan oleh para generasi muda akan semakin menurun atau
bahkan menghilang.
Melihat sangat pentingnya penerapan pendidikan
karakter, maka pendidikan karakter begitu gencar menjadi sorotan di berbagai
kalangan negeri ini. Bahkan Nadiem Makarim, selaku Mendikbud lebih mengutamakan
pendidikan karakter. Hal itu dianggap penting, karena kemajuan bangsa salah
satu faktor yang menentukannya adalah bagaimana karakter dari manusia yang
keluar dari sistem pendidikan di Indonesia.
Hal itu menunjukkan bahwa semua kalangan berharap
generasi muda di masa depan bukan hanya seseorang yang luar biasa secara
pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga seseorang yang menyadari nilai
luhurnya sebagai manusia yang diharuskan memiliki tutur kata, sikap, dan
perilaku yang sesuai dengan etika dan moral yang berlaku baik dilingkungan
rumah, sekolah, dan masyarakat.
Banyak
sekali program yang ditemukan untuk meningkatkan nilai karakter diri para
peserta didik, salah satu program yang bisa diterapkan untuk menanamkan
pendidikan karakter para peserta didik adalah membiasakan budaya Positif 5S
(Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Program ini merupakan kegiatan yang
sederhana, namun memiliki peranan dalam pembentukan karakter peserta didik.
B. Tujuan Budaya Positif 5S
Dengan menggalakkan Budaya positif senyum, salam, sapa, sopan,
santun (5S) diharapkan semua elemen sekolah:
- Menumbuhkan
nilai karakter yang memang diharapkan ada dalam setiap proses pembelajaran
di sekolah. Adapun karakter-karakter itu adalah toleransi, komunikatif,
cinta damai, dan peduli sosial.
- Menumbuhkan
rasa menghargai orang lain tanpa memperdulikan perbedaan agama, suku, dan
etnis yang berbeda dari dirinya.
- Menumbuhkan
rasa senang bergaul, berbicara, dan bekerja sama dengan orang lain yang
merupakan bentuk karakter bersahabat dan berkomunikasi.
- Menumbuhkan
rasa senang dan rasa aman atas kehadiran satu sama lain, yang merupakan
perwujudan sikap cinta damai.
- memikili
kepedulian sosial, yaitu rasa ingin selalu membantu orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan. Hal itu merupakan hasil yang terbentuk dari
sikap sopan santun yang tertanam dalam program ini.
C. Definisi Konseptual Budaya positif senyum, salam, sapa, sopan,
santun (5S)
Agar kita lebih memahami perlu adanya
definisi yang jelas mengenai apa yang di maksud dengan senyum, salam, sapa,
sopan dan santun. dapat kita uraikan
tentang budaya positif 5S ini sebagai berikut:
- Senyum
Senyum
adalah gerak tawa tanpa suara yang tercermin pada bibir yang mengembang
sedikit. Sering kita dengar bahwa senyum merupakan ibadah. Hal itu mungkin
benar, karena saat kita tersenyum berarti kita dalam keadaan bahagia, maka
secara tidak langsung kita sudah menyebarkan kebahagian dan aura positif kepada
orang lain. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya sebelum melakukan kegiatan
apapun kita awali dengan senyuman. Senyuman yang tulus menjadikan hubungan
masing-masing individu menjadi lebih menyenangkan.
- Salam
Salam, adalah pernyataan
hormat, selamat, sejahtera, damai, tentram. Yang digunakan untuk
mengkomunikasikan rasa hormat kita atas kehadiran orang lain, sebagai bentuk
rasa perhatian kita kepada orang tersebut. Salam yang kita lakukan dengan penuh
ketulusan, maka akan mampu mencairkan suasana kaku yang ada di sekitar kita.
Salam dalam hal ini bukan hanya berarti berjabat tangan saja, namun seperti
mengucapkan salam menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Mengucapkan
salam dan menjawab salam adalah salah satu amalan sholeh yang telah diajarkan.
Hal itu memberi gambaran, bahwa kita telah menyapa dan mengajak orang lain
bercakap-cakap. Dan tanpa kita sadari sebenarnya kita telah menunjukkan
perhatian kita terhadap orang yang kita tegur dengan salam. Hal itu akan
mempererat persaudaraan.
- Sapa
Sapa secara sederhana memiliki
makna kata-kata untuk menegur. Maka, tegur sapa yang dilakukan dengan ramah
yang kita ucapkan, membuat suasana menjadi akrab dan hangat. Saat kita menayapa
seseorang, maka berarti kita menunjukkan perhatian, respon, dan simpati kita
terhadap orang itu. Sehingga akan muncul rasa dihargai bagi orang yang sedang
kita sapa. Hal itu, akan menjadikan kepercayaan diri orang yang kita sapa tadi
semakin meningkat.
- Sopan
Sopan adalah rasa hormat,
takzim, dan tertib menurut adab yang kita lakukan kepada orag lain. Sopan yang bisa
kita lakukan adalah rasa hormat kita baik saat bicara, berjalan di depan orang
yang lebih tua, atau bahkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Bukan
hanya itu saja, sopan dalam berpakaian juga merupakan hal yang penting. Hal itu
akan menumbuhkan rasa saling menghormati satu sama lain. Seseorang yang
berkarakter dan memiliki etika adalah seseorang yang mampu berlaku sopan baik
ucapan maupun perbuatan dimanapun dan kapanpun.
- Santun
Dalam
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, santun memiliki pengertian sangat sopan, lemah
lembut berbudi bahasa, penuh rasa belas kasihan, suka menolong, berakhlak
mulia. Selain itu, santun juga memiliki makna tentang bagaimana kita mampu
mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Dengan cara
gerak tindakan dan ucapan yang santun kita akan membuat orang lain merasa
dihargai. Tingkah laku yang halus, rasa belas kasih, dan suka menolong
merupakan hal yang timbul karena terbiasa bertingkah santun kepada orang lain.
D. Tolak Ukur
- Peserta mampu menumbuhkan nilai karakter yang
memang diharapkan ada dalam setiap proses pembelajaran di sekolah. Adapun
karakter-karakter itu adalah toleransi, komunikatif, cinta damai, dan
peduli sosial.
- Peserta didik
mampu menghargai orang lain tanpa memperdulikan perbedaan agama, suku, dan
etnis yang berbeda dari dirinya. Hal ini menunjukkan adanya karakter
toleransi dalam program ini.
- Peserta
didik mampu menumbuhkan rasa senang bergaul, berbicara, dan bekerja sama
dengan orang lain yang merupakan bentuk karakter bersahabat dan
berkomunikasi.
- Peserta
didik mampu menumbuhkan rasa senang dan rasa aman atas kehadiran satu sama
lain, yang merupakan perwujudan sikap cinta damai.
- Peserta
didik memikili kepedulian sosial, yaitu rasa ingin selalu membantu orang
lain dan masyarakat yang membutuhkan. Hal itu merupakan hasil yang
terbentuk dari sikap sopan santun yang tertanam dalam program ini.
E.
Lini masa tindakan
yang dilakukan
Adapun hal yang bisa
menunjukkan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah merupakan teladan
bagi peserta didik dalam membudayakan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan,
dan Santun) adalah sebagai beriku:
1. Pendidik dalam hal ini adalah
guru, setiap pagi menyambut peserta didik di depan gerbang sekolah dengan penuh
keramahan. Kemudian menyapanya dengan sopan, sedangkan peserta didik dengan
sopan santun mengucapkan salam kepada gurunya dan mencium punggung tangan
gurunya. Hal itu akan memunculkan energi positif yang akan terbawa sampai
proses pembelajaran berakhir.
2. Pendidik yang masuk ke kelas
selalu mengucapkan salam, menyapa dengan sopan dan santun kepada peserta didik.
3. Apabila dalam proses
pembelajaran, peserta didik melakukan kekeliruan. Maka pendidik akan menasehati
dengan ramah, sopan, dan santun.
4. Saat berada di sekolah semua
pendidik dan tenaga kependidikan harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan
berucap, bahkan menanamkan pada dirinya bahwa dialah teladan bagi peserta
didik.
5. Antara pendidik dan semua
civitas sekolah harus selalu menerapkan budaya lima “S” di setiap kali bertemu.
Maka akan bisa dirasakan suasana kerja yang memyenangkan.
6. Peserta didik yang berada di
sekolah selalu dengan sadar mematuhi budaya 5S dengan menggunakan kata-kata
yang sopan saat bertanya dan berbicara kepada semua civitas sekolah.
7. Antar peserta didik juga harus
ikut membangun budaya 5S satu sama lain, agar dapat dirasakan rasa toleransi,
cinta damai, dan meningkatkan rasa peduli sosial diantara mereka.
F. Dukungan yang dibutuhkan
Suatu program yang ditujukan
untuk menanamkan karakter baik kepada peserta didik, tidak akan berjalan dengan
sempurna jika seluruh elemen di sekolah tidak ikut serta dalam program
tersebut.
Oleh karena itu, sebelum menerapkan
program Lima “S” tersebut kepada peserta didik. Maka rekan sejawat, kepala
sekolah, dan TU harus memberikan contoh dan mempraktekan terlebih dulu. Dengan
cara ini diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk mencontohnya. Selain
itu, program ini juga membutuhkan sosialisasi agar semua warga sekolah mampu
memahami program ini. Hal ini dilakukan agar visi sekolah membentuk peserta
didik yang berkarakter tidak hanya sebagai wacana.
Adapun,
hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang tua dan masyarakat sekitar dalam
menerapkan budaya 5S adalah sebagai berikut:
- Orang tua
setiap memberi nasehat kepada anaknya, maka harus menggunakan tutur kata
yang sopan dan santun, agar menciptakan rasa saling menghormati antara
orang tua dan anak.
- Saat akan
keluar rumah, anak harus membiasakan minta izin dan mengucapkan salam.
- Bukan
hanya anak saja yang harus mengucapkan salam saat ingin keluar rumah, tetapi
orang tua juga harus melakukan hal yang sama sebagai bentuk contoh bagi
anak. Bukan hanya itu saja, orang tua harus menanamkan pada dirinya bahwa
dialah orang yang akan dicontoh oleh anaknya baik ucapan, sikap, dan
prilaku.
- Antar
warga yang saling bertemu harus saling mengucapkan salam, kemudian menyapa
dengan sopan dan santun.
- Anak harus
dibiasakan mengucapkan kata-kata yang sopan dan santun saat berbicara
dengan orang yang lebih tua.
Mungkin semua hal yang telah
dijabarkan di atas hanya sedikit langkah yang dapat menanamkan karakter melalui
budaya positif lima “S” baik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.
Jika ditanya, apakah budaya positif
dalam membentuk karakter ini penting untuk masa depan peserta didik, maka
jawabnya adalah sangat penting. Di masa mendatang, untuk mewujudkan cita-cita
mereka, mereka akan bertemu dengan banyak orang. Maka saat itulah, pendidikan
karakter akan menunjukkan hasilnya sebagai budaya yang membangun karakter diri
mereka. Karena karakter seseorang, baik atau buruk tidak akan serta merta
terbentuk dengan begitu saja, tetapi karena adanya pembiasaan. Pendidikan
karakter itulah yang nantinya akan membantu mereka dalam menjalani hidupnya dan
mencapai kesuksesannya.
Sumber Refrensi:
Anisa,
Nurul. 2017 “Modal Pembentukan Karakter melalui Budaya 5S Senyum, Salam, Sapa,
sopan, dan santun”. (http://anisanurul2728.wordpress.com/2017/06/14/modal-pembentukan-karakter-melalui-budaya-5S-senyum-salam-sapasopan-dan-santun/).
Diakses pada selasa, 29 juni 2021.
Ihsan,
A. 2010 “9 Pilar Pendidikan Holistik Berbasis Karakter”. (http://sdncb11.wordpress.com/2010/08/03/9-pilar-pendidikan-holistik-berbasis-karakter/).
Diakses pada selasa, 29 juni 2021.
Wahyuni,
I. 2011 “Pendidikan”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan).
Diakses pada selasa, 29 juni 2021.
Kenangan
DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH
ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...






