Selasa, 03 September 2024

REVITALISASI MGMP SMA/SMK/SLB TAHUN 2024

 REVITALISASI MGMP SMA/SMK/SLB TAHUN 2024

Mataram, 3 September 2024

Ridhan Hadi, S.Pd











A. Latar Belakang

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mengadakan kegiatan Revitalisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) untuk tingkat SMA, SMK, dan SLB. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik guru serta konselor dalam rangka mendukung program Merdeka Belajar. Oleh karena itu, guru dan konselor perlu dibekali dengan kemampuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.

B. Tujuan Kegiatan

  1. Meningkatkan kompetensi profesional guru dan konselor dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  2. Meningkatkan kemampuan guru dan konselor dalam penerapan strategi pembelajaran yang inovatif dan efektif.
  3. Memperkuat kolaborasi dan komunikasi antar guru dan konselor dalam pengembangan materi pembelajaran dan konseling.
  4. Meningkatkan pemahaman guru dan konselor terhadap konsep pendidikan inklusif dan bagaimana mengimplementasikannya.

C. Pelaksanaan Kegiatan

  1. Hari/Tanggal: Senin - Rabu 2 – 4  September 2024
  2. Tempat: Hotel Puri Saron
  3. Peserta: 80 Orang Ketua MGMP/ MGBK SMA, SMK, dan SLB di NTB
  4. Narasumber:
    • Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd. (Kepala Dinas DIKBUD NTB)
    • Tim GTK Dinas DIKBUD Provinsi Nusa Tenggara Barat
D. Rangkaian Kegiatan






F. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kegiatan Revitalisasi MGMP/MGBK SMA/SMK/SLB tahun 2024 berhasil dilaksanakan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. Disarankan untuk melanjutkan kegiatan serupa di masa depan dengan melibatkan lebih banyak peserta dan materi yang lebih bervariasi. Selain itu, penting untuk melakukan evaluasi berkala terhadap implementasi hasil revitalisasi di sekolah masing-masing.

Mataram, 3 September 2024



Ridhan Hadi, S.Pd






Sabtu, 21 Oktober 2023

AKHIRNYA

Akhirny

     Ya dia memang anak yang dulu tidak mau diatur setiap apa yang dia inginkan harus dipenuhi, bahkan dia berani melawan orang tuanya. Berkata kasar kepadanya mengumpat dan sampai kepada mencaci maki orang tua jika ada keinginan-keinginannya yang tidak dipenuhi.

       Kehidupannya begitu mudah. Apapun yang dia inginkan selalu dilayani bak raja. Tidak ada yang berani melarangnya bahkan melirik pun tak ada. Bahkan dia bebas memalak siapapun yang dia temui di jalan, jika ada yang melawan sudah bisa dipastikan Puskesmas atau Rumah tempat terbaringnya.

     Dia sudah menyakiti begitu banyak orang. Kasusnya begitu banyak sampai tak terhitung. Pernah dia berkelahi dengan tetangganya, dia menghantamkan balok kayu ke seluruh tubuh tetangganya dengan sadis, setelah babak belur dan patah tulang baru dia hentikan aksinya, lalu yang terakhir tadi malam ketika menjelang sholat isya. Dia mengancam akan membunuh kakek tua ustad penjaga masjid karena ditegur agar tidak ribut dan minum-minuman keras di emperan masjid.  

     Namun itu ketika sebelum tabrakan maut menghancurkan tubuhnya, dan sekarang membuat saya bingung harus menggali kubur di bagian mana setiap lima puluh Senti terhalang batu besar padahal, sudah hampir sepuluh tempat sudah dicoba. Kata Pak Suritna penggali kubur pemakaman umum Desa Katen.




Sabtu, 20 Mei 2023

Cerpen"BELENGGU ADAT"

 "BELENGGU ADAT"




Di sebuah desa kecil yang terletak di pedalaman, hiduplah seorang gadis bernama Sinta. Desa itu dikenal karena memegang teguh adat dan tradisi mereka. Meskipun Sinta adalah gadis yang penuh semangat dan ingin menjelajahi dunia luar, dia terjebak dalam belenggu adat yang kuat.


Sinta adalah anak tunggal dari keluarga yang sangat konservatif. Ayahnya, Bambang, adalah kepala desa yang menganggap adat sebagai segalanya. Ia percaya bahwa mematuhi tradisi mereka adalah kunci keberhasilan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Sinta dibesarkan dalam keterbatasan, terikat oleh aturan yang ketat.


Hampir setiap aspek kehidupan Sinta dikendalikan oleh adat. Ia tidak diizinkan untuk belajar di luar desa, bepergian, atau mengejar cita-citanya sendiri. Ia hanya diperbolehkan melakukan apa yang dianggap pantas bagi seorang gadis desa: membantu ibu di rumah, belajar membuat kain tradisional, dan menunggu pernikahan yang telah diatur oleh orang tua.


Meskipun Sinta merasa terjebak dalam belenggu adat, ia tidak menyerah pada takdirnya. Di dalam hatinya, ia selalu merasa ada dunia yang lebih luas di luar sana. Suatu hari, saat Bambang sedang menghadiri pertemuan adat di desa tetangga, Sinta memutuskan untuk berani melangkah keluar dari batasan yang diberikan padanya.


Dengan hati yang berdebar, Sinta melarikan diri dari desa. Ia bertemu dengan seorang guru muda yang sedang melakukan penelitian tentang budaya di daerah itu. Guru itu, bernama Arjuna, merasa terinspirasi oleh keberanian dan semangat Sinta untuk melawan belenggu adat.


Arjuna dan Sinta menjelajahi dunia di luar desa. Mereka belajar tentang budaya dan tradisi dari tempat-tempat yang berbeda, serta mengalami kehidupan yang bebas. Sinta merasa bersemangat dan hidup kembali, merasakan kebebasan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Namun, ketika kabar tentang kepergian Sinta mencapai desa, Bambang marah besar. Ia menganggap Sinta telah menghina adat dan kehormatan keluarga mereka. Bambang bersumpah akan membawa Sinta kembali dan menghukumnya sesuai dengan hukum adat.


Sementara itu, Sinta dan Arjuna mengunjungi sebuah festival budaya yang mengagumkan. Mereka melihat keindahan dan keberagaman di dunia luar, serta menyadari bahwa adat dan tradisi bukanlah sesuatu yang harus menjadi belenggu, tetapi warisan yang berharga yang dapat dihormati dan dijalani dengan bijaksana.


Ketika Bambang tiba di festival itu, ia melihat betapa bahagianya Sinta dan bagaimana keberanian dan semangatnya telah membawa perubahan positif dalam hidupnya. Dengan hati yang lembut, Bambang menyadari bahwa belenggu adat yang ia pegang begitu erat telah membatasi putrinya dan menghalangi kemampuan Sinta untuk tumbuh dan berkontribusi pada masyarakat dengan caranya sendiri.


Bambang meminta maaf kepada Sinta dan memutuskan untuk membuka pikirannya terhadap perubahan. Ia mengambil langkah pertama dalam mendorong kebebasan dan inovasi di desanya, sambil tetap menghormati akar budaya mereka.


Dalam cerita ini, Sinta mengatasi belenggu adat dengan keberanian dan ketekunan. Ia memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya menghormati tradisi, sambil tetap membebaskan dirinya untuk mengeksplorasi dan berkembang. Cerita ini mengajarkan kita pentingnya menggabungkan kekayaan budaya dengan kesempatan untuk tumbuh dan mengubah diri, menciptakan masyarakat yang berakar kuat dalam nilai-nilai warisan mereka sambil memberikan ruang bagi individu untuk mengejar jalan mereka sendiri.

Kenangan

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH

ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...