Kamis, 03 Maret 2022

Pentigraf "MENUNGGU"

 Pentigraf

"MENUNGGU"

Ridhan Hadi


       Matahari terlihat begitu cerah pagi  ini, secerah hatiku, karena tunanganku akan menelpon pukul sembilan pagi ini. Mas Bima berangkat ke rumah Om Ferdi, pamannya di Jakarta. Aku harus menepati janjiku tidak menelponnya sampai Mas Bima sendiri yang menelpon, aku menerimanya walapun ini berat bagiku. Aku duduk di depan rumah sambil memegang  handphoneku. 


   Sambil menunggu, Aku  melihat galeri foto-foto bersama Mas Bima. Teringat kenangan bersamanya di Malioboro, Candi Ratu Boko, Prambanan, Museum Ullen Sentalu,  Taman Sari, Pantai Parangtritis, Stonehenge Cangkringan, dan yang tidak akan terlupakan teriakanku yang begitu keras waktu naik gondolan di Pantai Timang. Mas  Bima ikut tegang melihatku. Sangat menguji adrenalin. 


       Aku tersenyum menatap langit, melihat Sang Surya semakin meninggi. Tak lama berselang, ada panggilan dari Mas Bima, Aku segera mengangkatnya, tak ku berikan kesempatan Mas Bima bicara, ungkapan rasa rinduku sudah tak terbendung. Tapi sepintas terdengar bukan suara Mas Bima" Halo, Yen", dengan nada pelan suara wanita yang tak asing bagiku  berbicara, "Yeni  sayang...,ini mama nak, maafkan mama, baru sekarang mama telpon karena ini pesan Mas Bimamu sebelum meninggal dalam kecelakaan beruntun tadi malam. Aku terdiam air mataku tak terbendung, pandanganku gelap badanku lemas, terdengar sepintas, sambil menangis mama melanjutkan bicaranya, namun aku tak mendengar apa-apa lagi.

Cerpen "MENUNGGU PANGGILAN"

 Cerpen

MENUNGGU PANGGILAN

Ridhan Hadi


Namanya Bima, Bima Andika Pratama. Laki-laki yang membuat aku kesemsem. Berhasil meluluhkan hatiku. Hati yang terbelenggu dalam trauma akan cinta.  Jika dia di sampingku, waktu berjalan begitu cepat. Gairah cintaku meronta-ronta. Kata-kata yang keluar dari lisannya, bagaikan bait-bait syair pujangga cinta. Tatapan matanya menggetarkan jiwaku. Hah…, Tak bisa ku ceritakan semuanya. Mas Bima sempurna dimataku. 


Sudah hampir tiga bulan  aku bersamanya. Banyak yang berubah dalam diriku. Yeny, Derna, Yuki dan  teman-teman kerjaku bilang, Aku sekarang tidak menjadi pemurung, dan pemarah lagi, lebih periang, seperti orang-orang yang sedang dimabuk cinta. Tiada hari tanpa senyuman. Bersama Mas Bima Aku merajut cinta dalam nyata, menggapai mimpi dalam angan. Berjanji untuk bersama dalam ikatan suci.  Mas Bima akan melamarku setelah kembali dari Jakarta.


Matahari terlihat begitu cerah pagi  ini, secerah hatiku, karena Mas Bima akan menelponku pukul sembilan pagi ini. Mas Bima berangkat ke rumah Om Ferdi, pamannya di Jakarta. Aku harus menepati janjiku tidak menelponnya sampai Mas Bima sendiri yang menelponku, aku menerimanya walapun ini berat bagiku. Aku duduk depan rumah sambil memegang  handphoneku.


Sambil menunggu, Aku  melihat galeri foto-foto bersama Mas Bima.   Teringat kenangan bersamanya di Malioboro, Candi Ratu Boko, Prambanan, Museum Ullen Sentalu,  Taman Sari, Pantai Timang, Pantai Parangtritis, Stonehenge Cangkringan, dan yang tidak akan terlupakan teriakanku yang begitu keras waktu naik gondolan di Pantai Timang. Mas  Bima ikut tegang melihatku. Sangat menguji adrenalin.


Aku tersenyum menatap langit, terlihat Sang Surya semakin meninggi. Tak lama berselang, ada panggilan dari Mas Bima masuk di handphoneku, Aku segera mengangkatnya, tak ku berikan kesempatan Mas Bima bicara, ungkapan rasa rinduku sudah tak terbendung. Tapi sepintas terdengar suara wanita" Halo, halo, Yeni", dengan nada pelan suara wanita yang tak asing bagiku  berbicara, "Yeni  sayang,...ini mama nak, maafkan mama, baru sekarang mama telpon karena ini pesan Mas Bimamu sebelum meninggal dalam kecelakaan beruntun tadi malam. Aku terdiam air mataku tak terbendung, pandanganku gelap badanku lemas, terdengar sepintas sambil menangis mama melanjutkan bicaranya, namun aku tak mendengar apa-apa lagi.

Selasa, 01 Maret 2022

Pentigraf DUA DALAM SATU

 

 Pentigraf

DUA DALAM SATU

Ridhan Hadi

Deni sudah begitu lama tertarik pada Citra. Setiap hari dia berkhayal kalau dirinya kekasih Citra. Bahkan dalam mimpinya ingin sampai berkeluarga dengannya. Citra memang tiada duanya. Cantik, ramping, putih, pokoknya semua yang diidamkan laki-laki ada padanya. Namun harapan Deni pupus semenjak Citra pindah ke Surabaya. Masalah perasaannya ini sering dia ceritakan kepada Rendy temannya.

Di kafe tempat Deni sedang duduk santai, Rendy datang. Dia mengajak Deni untuk berkenalan dengan tantenya, tapi dengan tegas ditolak, karena di benaknya hanya ada Citra. Dia tidak mau mengkhianati rasa yang ada dalam dirinya. Rendy menyuruh Deni melupakan Citra, karena menurut Rendy, tantenya jauh lebih cantik dari Citra. Tanteku namanya Dita, kata Rendy. Sekali lagi Deni menegaskan bahwa dia tidak butuh Dita, dia hanya butuh Citra. Suara Deni terdengar lantang dan agak berteriak.

Tak lama kemudian setelah perdebatan itu,  seorang wanita cantik hadir di belakang Deni, menyapa sambil merangkul Deni, "Ya Mas Deni, namaku Dita Citra Wulandari, tantenya Rendy. Aku baru datang dari Surabaya kemarin sore.” Keduanya melongo, terdiam dengan campuran rasa yang tak bisa diceritakan. 




Kenangan

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH

ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...