Pentigraf
"MENUNGGU"
Ridhan Hadi
Matahari terlihat begitu cerah pagi ini, secerah hatiku, karena tunanganku akan menelpon pukul sembilan pagi ini. Mas Bima berangkat ke rumah Om Ferdi, pamannya di Jakarta. Aku harus menepati janjiku tidak menelponnya sampai Mas Bima sendiri yang menelpon, aku menerimanya walapun ini berat bagiku. Aku duduk di depan rumah sambil memegang handphoneku.
Sambil menunggu, Aku melihat galeri foto-foto bersama Mas Bima. Teringat kenangan bersamanya di Malioboro, Candi Ratu Boko, Prambanan, Museum Ullen Sentalu, Taman Sari, Pantai Parangtritis, Stonehenge Cangkringan, dan yang tidak akan terlupakan teriakanku yang begitu keras waktu naik gondolan di Pantai Timang. Mas Bima ikut tegang melihatku. Sangat menguji adrenalin.
Aku tersenyum menatap langit, melihat Sang Surya semakin meninggi. Tak lama berselang, ada panggilan dari Mas Bima, Aku segera mengangkatnya, tak ku berikan kesempatan Mas Bima bicara, ungkapan rasa rinduku sudah tak terbendung. Tapi sepintas terdengar bukan suara Mas Bima" Halo, Yen", dengan nada pelan suara wanita yang tak asing bagiku berbicara, "Yeni sayang...,ini mama nak, maafkan mama, baru sekarang mama telpon karena ini pesan Mas Bimamu sebelum meninggal dalam kecelakaan beruntun tadi malam. Aku terdiam air mataku tak terbendung, pandanganku gelap badanku lemas, terdengar sepintas, sambil menangis mama melanjutkan bicaranya, namun aku tak mendengar apa-apa lagi.