Minggu, 06 Maret 2022

Pentigraf "MENUNGGU AJAL"

 

Pentigraf

MENUNGGU AJAL

Ridhan Hadi


Suara ledakan dan tembakan terdengar berbalasan. Ledakan terjadi di mana-mana. Sudah hampir seluruh gedung jalan kota Kiev, Ibu Kota Ukraina hancur terkena bom tentara Rusia. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Aku sendiri sedang bersembunyi di balik reruntuhan Hotel Ukraina, Jalan Heroyiv Nebesnoyi Sotni Alley. Pura-pura terbaring di samping mayat-mayat warga, agar dianggap mati oleh tentara Rusia. 


    Aku mencoba menggerakkan kaki. Namun sungguh tak sanggup bagiku, dua hari yang lalu  dia terkena runtuhan bangunan yang terjatuh menimpa mobil, tubuhku juga sempat terjepit. Namun aku berhasil keluar. Bau menyengat dari mayat-mayat yang sudah meninggal dua hari kemarin, membuat pernapasanku sesak. Ditambah darah yang mengalir tak henti dari kaki dan pelipisku, membuat pandanganku berpinar-pinar. Aku juga tak panjang harapan, mungkin nyawaku sebentar lagi akan hilang.


     Duarr…!!, Duarr…!!, Suara gemuruh ledakan bom yang bertubi-tubi menghantam Museum of Jellyfish samping Hotel Ukraina. Aku khawatir sasaran berikutnya Hotel ini. Aku berlindung di balik mayat yang dikerumuni lalat. Tak ada regu penolong, suasananya begitu mencekam. Selang waktu setelah ledakan. Aku melihat ibuku keluar dari balik gedung yang baru saja menjadi sasaran. Syukur Tuhan, dia selamat. Dua hari yang lalu aku datang menjemputnya. Namun, serangan itu begitu cepat. Ku pikir Ibuku telah tiada. Dia berjalan tertatih-tatih mendekatiku. Samar aku melihatnya karena debu-debu masih bertebaran di mana-mana. Sayup terdengar dia memanggilku, namun tak berapa lama semakin jelas terdengar. "Adi…,Adi…, Bangun sudah hampir pukul delapan…, kamu tidak berangkat kerja!!!" Teriak mama membangunkanku. Ternyata itu hanya mimpi, pengaruh menonton perang Ukraina vs Rusia tadi malam.

     


   

Sabtu, 05 Maret 2022

Pentigraf "ADUH KETINGGALAN"

 

Pentigraf

ADUH KETINGGALAN  


Ridhan Hadi


    Sebagai guru Pak Rudy sudah dibekali dengan pola pendidikan merdeka belajar. Murid diberikan kebebasan belajar yang bertanggung jawab dengan cara yang mereka inginkan. Guru hanya sebagai fasilitator. Memfasilitasi kegiatan belajar yang disenangi oleh murid. 


       Namun tidak semua murid senang belajar, walaupun sudah menggunakan berbagai macam strategi dalam pembelajaran. Sebagian murid datang sekolah, hanya karena alasan, tidak ada teman main di rumah, sebagian lagi untuk mendapatkan uang jajan dari orang tuanya. Pulang sekolah, pergi keliaran dan nongkrong merokok di warung pinggir tegalan. Setiap di tanya, tugasnya mana?, jawabnya ketinggalan. Simple, tanpa ada rasa bersalah. Begitu pula dengan salah satu murid binaan Pak Rudy. 


     Tiba saat pembagian raport. Murid yang bermasalah tidak naik kelas. Menangis dan merengek kepada Pak Rudy. "Pak Mengapa nilai matematika saya kosong?" Dengan santai Pak Rudy menjawab, "Aduh…, nilaimu ketinggalan. Murid itu Kebingungan sudah enam guru dia tanyakan, jawabannya selalu sama, Ketinggalan. 


Pentigraf "AKIBAT MELAWAN ARUS"

 

Pentigraf

AKIBAT MELAWAN ARUS


Ridhan Hadi


       Kutatap langit yang begitu terik, panasnya membara serasa menembus sukma. Ingin Aku melihat sang surya berlari dengan cepat menerabas awan tipis yang menghalanginya,  agar penderitaanku sedikit berkurang. Lamban terasa waktu berjalan. Sembilan belas tahun aku lewati bagai seabad. Sisa enam bulan begitu panjang terasa. Sangat menyakitkan. Oh…, 3 Juni 2022, Aku  memimpikanmu. 


        Sampai siang ini, sudah hampir  lima kali aku melawan derasnya Kali Gaten, membawa batu kapur dengan kondisi kaki dan tangan dirantai. Debit airnya bertambah semenjak langit menjerit, menumpahkan air mata kemarin sore, sudah dua napi kelas  IIA Kembang Kuning menjadi korban keganasan Gaten. Kami dipaksa melewatinya tanpa pengaman.


         Kali ini aku dipasangkan dengan Jagger. Si Killer Hunter. Entah berapa orang yang sudah menjadi korbannya. Dari rakyat jelata sampai pejabat dan teknokrat. Dia tidak seperti Aku, gagal sebelum beraksi. Ku minta istirahat sejenak, badanku terasa kaku. 70 kg dengan jarak lima ratus meter, melewati bukit dan kali yang deras, membuat aku tak berdaya. Nafasku hampir putus. Aku berbaring di tanah lumpur. Si Killer menatapku seraya senyum mengejek, lalu menyindirku dengan sindiran pamungkasnya. "Sekarang kamu tau rasa…, itu akibat melawan arus". Aku penggagas makar membunuh presiden, karena berbeda paham.

Kenangan

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH

ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...