Jumat, 04 Maret 2022

PENTIGRAF TERDENGAR "TUHAN MENANGIS"

PENTIGRAF

TERDENGAR "TUHAN MENANGIS"

Ridhan Hadi



     Gemerincing suara air terjatuh dari sela-sela genteng yang pecah, bagai alunan gamelan yang dipukul penabuh. Terdengar juga suara gemuruh mengiring, menggelegar di balik pembatas aku dengan langit. Seakan tak mau jauh dariku. Berputar sekitar lereng Rinjani. Namun, aku merasa risih dengannya. Ingin aku selimuti bumi ini, agar tidak tersentuh oleh pijarnya yang membakar. terasa badan ini gemetar. Suaranya begitu lancang. Merasuk sampai sukmaku yang paling dalam. Membuat telingaku enggan mendengar. Mataku pun sulit terpejam.


      Malam itu sangat mencekam. Gemuruh bersahutan, menggelegar seakan membelah langit lereng Rinjani. Di sela suara, terdengar teriakan dari kejauhan meminta tolongan. Hah…, ini sudah kuduga lereng itu takkan pernah mau bersahabat lagi, karena begitu banyak pohon yang kalian jarah darinya. Lereng Rinjani longsor menimpa rumah penduduk. Dia meminta korban karena kebrutalan jiwa yang haus akan kekayaan.


       Terdengar suara riuh datang mendekat ke pondok kecilku. Istriku langsung berteriak memanggil namaku, ternyata yang dibawa orang-orang tadi adalah putraku yang terkena longsor lereng Rinjani. Aku mengira dia sudah pulang dari temannya. Tak sabar rasanya ingin aku menamparnya. Suaraku sudah ku angkat siap meraung, Ku lihat putraku ketakutan. aku ingin segera memberi pelajaran. Namun, istriku melarang agar jangan melanjutkan. Dia memeluk putranya sambil berkata lirih "Tu Han menangis gara-gara Bapak marahi". Aku melongok terdiam, butuh beberapa saat untuk mengerti apa yang dikatakan istriku. Ternyata, yang dimaksud istriku. Handika, putra kami menangis karena aku marahi. 


2 komentar:

Kenangan

DIKLAT PEMBELAJARAN MENDALAM KEPALA SEKOLAH

ON THE JOB TRAINING (OJT) PAPARAN 4 Kementerian Pendidikan  Dasar dan Menengah • IN-SERVICE TRAINING 2 14-17 November 2025 Materi Umum (4 JP...